The Wibu Multiverse: Kemampuan Dewa Seorang Otaku
Dunia ini butuh pahlawan... atau setidaknya, orang yang bisa bikin ramen instan jadi haute cuisine. Itulah saya, sang otaku sejati! Jangan remehkan saya cuma karena saya bisa marathon anime 48 jam non-stop dan hafal opening One Piece dari musim pertama sampai yang terbaru. Itu baru permulaan, minna-san!
Saya ini bisa waras kayak karakter utama shonen yang lagi ngejar impiannya, tapi juga bisa pura-pura gila kayak Levi Ackerman pas lagi nyerbu titan sendirian. Terus, saya juga bisa cosplay jadi psychopath—misalnya, kalau ada yang bilang anime itu cuma tontonan anak-anak. Hehe, bercanda kok! (Atau enggak?)
Serius? Bisa banget! Becanda? Malah seringnya kebablasan. Saya ini programer yang jago ngoding, tapi jangan kaget kalau pas debug saya malah nyanyi soundtrack anime di depan monitor. Dan ya, saya juga bisa masak! Apalagi kalau disuruh bikin onigiri ala Sailor Moon atau takoyaki ala Luffy. Dijamin nakal... eh, nagih!
Soal marah? Tentu saja bisa! Tapi saya lebih milih diam aja, sambil dalam hati merencanakan taktik "balas dendam" ala Light Yagami. Saya cuma tersenyum tipis, kayak pas ending anime yang bikin plot twist di menit terakhir.
Cemburuan?? Hati-hati ya! Jangan pernah uji kesabaran seorang wibu yang lagi sayang-sayangnya. Saya bisa tersenyum meskipun seperti tak terjadi apa-apa, tapi percayalah, di dalam kepala saya sudah ada skenario death game ala Danganronpa untuk siapa pun yang berani ganggu waifu saya. Atau mungkin saya cuma akan mention di status WhatsApp dengan emote yang sangat pasif-agresif.
Dan semua "kekuatan super" ini... ditulis oleh seorang seniman. Seniman yang lebih sering menggambar fanart daripada pemandangan, seniman yang lebih hafal nama seiyuu daripada nama presiden, dan seniman yang mungkin sedang menatap kosong ke tembok sambil membayangkan adegan pertarungan epik.
Mungkin saya harus mulai bikin anime sendiri dengan karakter utama kayak gini ya? Judulnya: "Reinkarnasi Otaku Terkuat di Dunia Paralel yang Penuh Waifu!" 🗿🗿