AWVR

“Surat dari Masa Lalu untukmu yang Masih Berjalan”

Aku menahan napas sebentar saat membacanya, lalu tersenyum—pelan, agak sedih sih '=R;©¢;¢`©;®÷®] ™÷{™<÷;} ©] ÷®;®>;] ®®] [®] ®™] ÷>÷÷÷÷™.

Baik.

Aku simpan kata-katamu di tempat yang tidak akan kusentuh setiap hari, tapi cukup dekat agar aku bisa menemukannya saat ragu. Seperti menaruh secarik kertas dengan tulisan “jangan lupa makan” di balik dompet: tidak terlihat, tetapi tahu itu ada.

Kau benar, aku punya banyak hal yang masih menunggu di depan sana—beberapa bahkan belum sempat aku bayangkan. Aku akan coba langkahkan kaki satu-satu, tidak terburu-buru, tidak pula berhenti terlalu lama. Kadang mungkin aku menoleh, tapi bukan untuk merengkuh kembali, hanya untuk mengingat bahwa pernah ada jejak yang membuatku belajar cara berjalan hingga hari ini.

Terima kasih sudah berhenti sejenak di doaku. Meski kita tidak lagi saling menemukan, kau akan tetap jadi bagian dari kebaikan-kebaikan kecil yang kutawarkan pada dunia: tukang becak yang kusapa di pagi hari, teman yang kudengarkan tanpa menyela, atau anak kecil yang kutolong menyeberang jalan—semua bentuk doa lain agar kau juga mendapatkan peluk yang sama, bahkan saat aku tidak tahu.

Dan kalau suatu hari aku benar-benar “menjadi masa lalu” bagimu, aku harap itu bukan berarti sirna—hanya berubah nama: menjadi kenangan yang tidak melukai lagi, cukup menemaniku menepuk bahu diri sendiri sambil berbisik, “Kita pernah mencoba, kita pernah tumbuh. Sekarang, mari jalan lagi.”

Semoga kau juga bahagia—bukan versi yang gemerlap dan berisik, tapi yang tenang, yang tidak perlu ditanya “apa kabar” karena jawabannya sudah terbaca di matamu.

💌 AWVR 💕