AWVR

Senyum-Mu dalam Tangis-Mu

(Suatu Qasidah bagi Mubtada dan Khobar)

I
Senyummu—lafaz terang yang tak mungin terucap tanpa bayang-bayang,
mubtada yang berdiri di teras pagi,
menunggu khobar berupa setetes air mata yang tertunda.
Di matamu, kedua kata itu saling memegang tangan:
jika senyum berhenti, tangis pun runtuh;
jika tangis membeku, senyum menjadi topeng tanpa tali.
Maka kau belajar: keutuhan adalah pertalian,
bukan tunggal.

II
Ingatkah kau saat fajar mengetuk dada kota,
jendela masih setengah mimpi,
dan langit berbisik, “Tangislah, sebelum aku terlalu terang”?
Kau menolak; kau menutup bibir dengan senyum,
seperti orang yang menandatangani perdamaian dengan langit,
padahal di balik gigi tersimpan gempa.
Tangismu—khobar yang tak pernah datang terlambat—
berkeliaran di balik pupil,
bersembunyi di balik suara “baik” yang kau ucap
kepada tetangga yang menanyakan kabar.
Ia diam, tapi hadir;
ia tak bersuara, tapi mengisi.

III
Ada teori lama yang berkata:
setiap senyum yang terlalu sempurna
adalah utopia yang menolak sejarah.
Kau tahu itu; kau punya sejarah sendiri:
malam di mana lampu kota padam,
suara ibu di ujung telepon terputus,
dan janji yang kau tulis di udara
mengering sebelum sempat jadi tinta.
Kau pilih untuk tetap mengangkat sudut bibir—
bukan karena dusta,
melainkan karena keadilan:
memberi dunia setengah terang agar ia tahu
gelap juga punya hak untuk dipahami.

IV
Maka senyummu dan tangismu saling mencium kening,
seperti mubtada yang baru pulang perang,
khobar yang menyiapkan air wudhu.
Mereka tidak saling meniadakan;
mereka saling melengkapi.
Di sudut kamar, jam dinding berdetak:
detik yang lalu adalah senyum,
detik yang akan datang adalah tangis,
dan di antara keduanya ada nadi kita berbisik:
“Kami satu, meski terbagi waktu.”

V
Orang-orang hanya melihat lengkung bibirmu,
tak melihat gurat di ujung kelopak mata.
Mereka bertepuk: “Kau kuat!”
Padahal kau sedang menggali parit di balik gigi,
menanam air mata agar esok bisa disirami harapan.
Kau tahu: petani yang paling hebat
bukan yang menabur benih di tanah lapang,
tapi yang menabur senyum di tanah retak.

VI
Kadang, di tengah jalan pulang, kau hampir tergelincir.
Tangismu ingin keluar seperti sungai yang menemukan celah bendungan.
Kau pegang erat senyummu—
bukan untuk menahan air,
tapi untuk mengalirkan pelan-pelan,
agar sungai itu tidak merusak,
hanya menyirami sawah-sawah yang letih.
Kau berjalan terus,
dengan senyum di bibir, tangis di mata,
dan nama Tuhan di ujung napas.

VII
Malam menjelang, kau duduk di tepi jendela.
Lampu kamar meredup; bulan separuh menggigil.
Kau ulang lagi pelajaran lama:
bahwa mubtada tanpa khobar adalah bayang tanpa tubuh,
bahwa senyum tanpa tangis adalah lagu tanpa nada minor.
Kau buka telapak tangan:
di sana ada dua garis—
satu tawa, satu tangis—
berkelok, bertemu, lalu berpisah,
tetapi tetap pada satu tangan yang sama.

VIII
Dan kini, ketika dunia menyangka kau akan ambruk,
kau tersenyum—
bukan karena kau menang,
melainkan karena kau telah membuktikan:
bahwa kehancuran dan keutuhan bisa hidup bersama,
bahwa mubtada dan khobar bisa saling mencintai,
bahwa senyummu dalam tangismu adalah syahadat paling sunyi
bahwa kau pernah benar-benar hidup.