Rindu yang Bertengger di Sela Jemari Angin
Aku tidak ingin menutupnya rapat-rapat, sebab rindu ini bukan luka yang bisa disembunyikan di balik perban. Ia hidup, bernapas, menggeliat di bawah tulang rusukku setiap kali malam turut menyimpan namamu dalam gelapnya. Tapi aku juga tak cukup kuat untuk melemparkannya jauh—seolah jika kusapukan ke langit, ia akan kembali menggantung di ujung bulu mataku seperti embun penolakan.
Aku serahkan pada angin, ya. Bukan karena aku yakin dia akan mengantarkannya padamu, tapi karena aku lelah menjadi gudang ingat yang penuh sesak. Angin tak pernah berjanji, tapi setidaknya ia mau mendengar. Ia mengalir di antara rambutku, menerabas helai demi helai kebisuan, lalu membawa deru yang terdengar seperti lagu kita—yang nyaris, tapi tak pernah tuntas.
Di antara diam dan deru itu aku bertengger. Di ujung jendela, di tepi jalan, di dalam kedai kopi yang dulu kita bagi secangkir kopi dan sejuta tawa yang kini terdengar seperti rekaman tua. Aku duduk di sana, menatap langit yang sama, berharap awan membentuk wajahmu—lalu segera hancur, supaya aku tidak terlalu lama menatap.
Kadang aku bertanya pada diri sendiri: apakah rindu ini benar-benar tentangmu, atau tentang aku yang belum bisa melepaskan bayangmu dari balik retakan hari-hariku? Mungkin rindu bukan tentang kehilangan, tapi tentang menahan sesuatu yang tak lagi bisa kaupegang, tapi juga tak sanggup kaulepaskan.
Aku masih menyisakan secangkir kopi untukmu—dingin, pahit, dan tak tersentuh. Seperti aku. Seperti kita. Dan aku masih menunggu angin kembali, membawa deru yang mungkin, sekali lagi, terdengar seperti namamu.