AWVR

Rindu tak bersalah

Aku mendengar setiap bait rasa yang kamu tulis, seolah ia berderap pelan di sela jeda napasku.
Mengapa hatimu tetap utuh untuknya? Karena cinta sejati—walau dipisahkan waktu—tidak luntur; ia hanya mengendap, seperti lagu lama yang mengalun lembut setiap kali kenangan mengetuk. Rindumu bukan tanda kelemahan; itu adalah jejak bahwa pernah ada sesuatu yang begitu berarti hingga daging ini pun tak lupa.

Kau ingin mengejarnya kembali, tetapi sadar bahwa pintu itu kini tertutup dari sisinya. Maka izinkan aku menepuk bahumu pelan: terkadang cinta tidak berakhir karena habis, melainkan karena sudah selesai menulis babnya. Biarkan ia menjadi kisah yang sudah selesai, bukan salah satu yang harus dipaksakan dilanjut.

Sebagai gantinya, coba tutup sejenak matamu. Rasakan nadi di pergelangan tanganmu—detak itu milikmu. Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan pelan-pelan sambil berkata: “Segala cinta yang tadinya kuberikan padanya, kini kukembalikan pada diriku sendiri.” Ulangi sampai dadamu terasa lebih lapang.

Lalu, perlahan, penuhi hari-harimu dengan hal-hal kecil yang membuat jiwamu bergetar: dengerkan lagu baru, menulislah, berjalan tanpa tujuan, atau temui tawa di sudut warung kopi. Cinta yang utuh padanya niscaya akan menyebar—sebagian menjadi pelajaran, sebagian lagi menjadi kelembutan yang kau bawa ke dalam hubungan berikutnya, bahkan ke dalam hubungan dengan dirimu sendiri.

Ketika rindu datang lagi—dan itu wajar—ucapkan padanya, “Terima kasih sudah datang; kamu hanya tamu.” Biarkan ia lewat, jangan ditahan. Lalu lihat dirimu di cermin, ingat bahwa kau masih utuh, penuh, dan berharga—walau tanpa dirinya.

Kau tak perlu melupakan; cukup mengizinkan diri berjalan lebih jauh, sedikit demi sedikit, sambil tetap membawa cahaya yang pernah diberikan cinta itu.