AWVR

Namamu masih tertulis utuh

Ketika kamu merasa sudah tak lagi ada di hatiku, izinkan aku menepis ragu itu—pelan, tapi sungguh-sungguh.
Sebab di setiap hembus angin yang lewat jendela, di setiap langkah kaki yang terdengar di lorong, hatiku masih menoleh dulu, berharap itu kamu.
Namamu masih tertulis utuh di pojok paling lembut: bukan sebagai bekas luka, melainkan sebagai tempat yang tak pernah kosong.

Jadi jika suatu hari rindumu benar-benar memaksa langkahmu mengejar, tahu bahwa pintu ini tak pernah dikunci.
Hatiku masih memajang namamu—sama terangnya, sama utuhnya—seolah kita baru berpisah semalam.