AWVR

Kuhimpun kata hari ini soal rindu yang tak ingin kututup rapat, tapi juga tak berdaya kubuang. Kuserahkan ia pada angin, menggantung di antara diam dan deru.

Hai, siapa pun yang mau baca ini… Maaf ya kalau tulisanku berantakan. Aku cuma butuh tempat menumpahkan isi kepala yang udah kelewat penuh. Kadang aku mikir, kalau otakku punya tempat sampah kayak laptop, pasti aku udah sering nge-klik “kosongkan keranjang” biar nggak sesak begini.


Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Mungkin dari senyumnya yang tiba-tiba muncul di kepala saat aku sedang mencuci piring, atau dari cara ia mengetuk pintu hati—lembut, tapi bikin gemetar. Kami bukan apa-apa. Tapi juga bukan “tidak apa-apa”. Di antara “hai” dan “selamat malam”, ada celah-celah kecil yang kusemati harapan palsu.

Aku pernah coba menjauh. Serius.
Aku hapus chat, mute story, bahkan pernah blokir. Tapi malamnya aku nangis di bawah selimut karena kangen. Bukan kangen dia—kangen perasaan. Kangen ada yang nanya, “udah makan?” dengan nada yang bikin aku merasa dipikirkan. Kangen ada yang bikin aku tertawa sampai perut mules, padahal hari itu aku baru saja menangis di kamar mandi karena kerjaan.

Aku lemah, ya. Gampang banget air mataku turun. Kadang aku nangis cuma karena lagu favoritnya keplay di Spotify tanpa sengaja. Aku penyabar—atau mungkin cuma penakut. Penakut untuk ngomong, “Aku butuh kepastian.” Karena kalau aku minta, dan ternyata dia pergi… aku nggak siap.

Jadi begini deh, aku memilih diam.
Bukan menunggu. Bukan berharap. Cuma… biarkan aja menggantung.
Kayat lonceng yang digantung di pagar rumah tua—kadang berbunyi karena angin, kadang diam membisu. Tapi tetap di sana. Tidak diikat erat, tapi juga tidak dilepas.

Aku tahu, suatu hari aku harus memutuskan.
Tapi hari ini, biarkan aku lemah.
Biarkan aku menulis ini sambil menahan tangis, sambil berharap dia nggak baca—tapi juga diam-diam berharap dia baca.

Aku nggak minta solusi. Cuma minta didengar.
Kalau kamu sampai di sini… terima kasih.
Semoga kamu nggak pernah menggantung begini.

Dengan setengah hati yang masih berdebar,
T. (yang masih belajar melepas, tapi belum sanggup)