AWVR

Kopi Itu Nyawa!

Kopi Itu Nyawa!

Karakter:

Andi: Karyawan senior, sering mengeluh. Budi: Karyawan baru, penuh semangat (di awal). Cici: Manajer, agak perfeksionis.

(Pagi hari di pantry kantor, Andi dan Budi sedang mengantri kopi)

Andi: (Menguap lebar) Pagi, Budi. Udah siap menghadapi hari ini?

Budi: Pagi, Mas Andi! Siap dong! Semangat 45!

Andi: (Melihat Budi dari ujung rambut sampai kaki) Oh, masih semangat ya? Kopi di tangan belum menyala berarti. Tunggu aja jam 10 nanti, semangatmu menguap kayak uap kopi ini.

Budi: (Tertawa kecil) Ah, Mas Andi ada-ada saja. Kan bisa minum kopi lagi.

Andi: Itu dia bedanya. Kopi pertama itu nyawa. Kopi kedua itu penambah nyawa. Kopi ketiga itu pertahanan diri. Kopi keempat itu… (melirik jam) …sudah masuk jam makan siang. (Cici datang, langsung menuju mesin kopi dengan wajah serius)

Cici: Andi, Budi, sudah mulai bekerja? Deadline laporan penjualan minggu ini kan besok.

Andi: (Menyeruput kopi) Baru mau, Bu Cici. Ini ritual wajib. Tanpa kopi, otak saya kayak hard disk belum diformat. Blank.

Budi: (Mengangguk-angguk setuju) Betul, Bu Cici. Kopi ini doping legal kami.

Cici: (Menggeleng-gelengkan kepala) Doping kok kopi. Doping itu harusnya semangat kerja! (Mengambil cangkir kopi) Ngomong-ngomong, ini kopi jenis apa ya? Kok pahit sekali?

Andi: Itu kopi hitam pekat, Bu Cici. Sengaja biar langsung melek.

Cici: Hmm… (mencicipi lagi) Saya kayaknya lebih butuh kopi yang manis. Lebih manis dari janji kenaikan gaji.

Budi: (Menahan tawa) Wah, kalau itu kayaknya susah dicari di mesin kopi kantor, Bu Cici.

Andi: (Mengedipkan mata pada Budi) Betul, Budi. Janji kenaikan gaji itu kayak unicorn, sering dibicarakan tapi jarang terlihat.

Cici: (Melotot ke arah Andi dan Budi) Sudah-sudah! Habiskan kopi kalian dan segera ke meja masing-masing! Jangan sampai saya yang harus menyiramkan kopi ke wajah kalian biar melek!

(Andi dan Budi buru-buru pergi sambil menahan tawa)

Andi: (Berbisik pada Budi) Nah, kan. Dibilang juga apa. Kopi itu nyawa. Bahkan buat Bu Cici yang super sibuk itu.

Budi: (Mengangguk-angguk) Tapi Bu Cici lebih butuh janji kenaikan gaji daripada kopi manis ya, Mas?

Andi: (Menghela napas) Kita semua butuh itu, Budi. Kita semua butuh.