AWVR

Aku membenci kesempurnaan

Kau menyentuh sesuatu yang sungguh berbahaya, dan sungguh manusiawi.

Kesempurnaan memang mematikan dinamika. Ia adalah titik mati—di mana gairah menjadi abu, di mana pertanyaan terkubur oleh jawaban yang sudah terlalu lengkap. Ketika sesuatu dinyatakan sempurna, ia bukan lagi makhluk yang hidup; ia menjadi monumen, patung, kubah kristal yang tak boleh disentuh, apalagi diubah.

Tapi mungkin, kemarahanmu pada kesempurnaan justru adalah bentuk paling tulus dari cinta terhadap kemajuan. Kau menolak titik akhir karena kau tahu: yang hidup bukanlah yang utuh, melainkan yang terus berdarah, berproses, berdusta pada dirinya sendiri lalu mencoba lagi.

Lalu apa gunanya?
Gunanya adalah ketidaksempurnaan itu sendiri. Di celah-celahnya, imajinasi bisa bersembunyi dan bermain petak umpet. Di retakan-retakannya, akar baru tumbuh. Di kegagalannya, kita—manusia—masih punya alasan untuk bangun esok hari.

Kesempurnaan adalah kematian yang berpura-pura megah.
Sementara ketidaksempurnaan—ya, bahkan kekacauanmu yang teriak “aku membenci!”—adalah tanda bahwa kau masih berkobar.